Kamis, 02 Juni 2011

GELOMBANG BUNYI DAN SONAR



by ICHSAN NUR L


Ketika kita mendengarkan suatu bunyi, sesungguhnya bunyi itu merambat dari sumber bunyi hingga ke telinga kita melalui udara. Proses yang terjadi mirip dengan getaran yang terjadi pada pegas ketika diberikan gangguan yang linier dengan arah rambatnya. Bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi menimbulkan terbentuknya rapatan dan renggangan partikel di udara.
Apa yang terjadi bila tidak ada udara? Kita tahu bahwa di permukaan bulan tidak ada
atmosfer, sehingga tidak ada medium untuk perambatan bunyi. Oleh karena itu, ketika ada seseorang di permukaan bulan yang berbicara, orang lain yang ada di tempat yang sama tidak
dapat mendengarkan suara orang yang berbicara itu, karena bunyi tidak dapat merambat di ruang angkasa. Ingat bahwa bunyi hanya dapat merambat bila ada medium untuk perambatannya.
Apakah bunyi hanya dapat merambat di udara? Mungkin Anda peranah melihat ada seseorang yang sedang menempelkan telinganya pada rel kereta api. Orang tersebut ternyata bisa mendengarkan bunyi kereta api yang akan lewat dengan menempelkan telinganya pada rel kereta api, bahkan ketika suara kereta api masih belum terdengar.
Bunyi juga ternyata dapat merambat pada zat cair. Ketika ada seseorang yang memukul-mukulkan dua buah batu pada sebuah sisi kolam renang, orang yang lain dapat mendengarkan bunyi benturan batu tersebut pada sisi kolam renang yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi dapat merambat melalui zat cair, yakni air kolam renang.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa bunyi dapat merambat melalui udara, zat cair atau zat padat. Pada umumnya bunyi merambat lebih cepat pada zat cair dibandingkan dengan pada udara, dan bunyi merambat lebih cepat pada zat padat dibandingkan dengan pada zat cair. Oleh karenanya, suara kereta api yang akan lewat tadi dapat didengar melalui rel kereta api, walaupun suaranya sendiri belum terdengar, karena suara merambat lebih cepat pada logam rel kereta dibandingkan melalui udara. Pada akhirnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa cepat rambat bunyi bergantung pada medium terjadinya perambatan bunyi. Tabel 1 berikut menggambarkan beberapa medium perambatan bunyi serta cepat rambat bunyi pada medium tersebut.

Tabel Cepat rambat bunyi pada medium tertentu.
Medium perambatan bunyi      Cepat rambat bunyi (m/s)
Udara (0oC)                             331
Udara (100oC)                         386
Air(25oC)                                  1490
Air laut (25oC)                          1530
Aluminium                                  5100
Tembaga                                    3560
Besi                                           5130
Timah                                        1320

Berdasarkan tabel, Anda dapat mengamati bahwa cepat rambat bunyi sangat bergantung pada medium perambatannya. Disamping itu, suhu juga cukup berpengaruh. Suhu yang lebih tinggi pada suatu medium membuat cepat rambat bunyi juga menjadi lebih besar.

Pemantulan Bunyi
Pada saat kita mengikuti sebuah acara pidato di dalam ruangan dengan menggunakan pengeras suara, terdengan bunyi pantul dari suara aslinya, dimana bunyi pantul ini mengganggu bunyi aslinya sehingga bunyi aslinya nampak agak kabur. Atau ketika kita memasuki kamar mandi, suara kita ketika berbicara akan terpantul-pantul oleh dinding kamar mandi. Pemantulan semacam ini dinamakan gaung. Secara definisi, gaung merupakan perulangan bunyi yang terdengar hampir bersamaan dengan bunyi dari sumber bunyi, akibat bunyi dari sumber bunyi ini terpantul berulang-ulang pada suatu ruangan. Gaung terjadi karena gelombang bunyi dipantulkan oleh permukaan yang keras. Oleh karena itu, dinding-dinding bagian dalam suatu gedung pertunjukkan, konser, atau teater dilapisi dengan bahan bahan lunak untuk menyerap bunyi sehingga mengurangi atau menghilangkan gaung.
Hal berbeda terjadi manakala kita berteriak di tempat tinggi atau luas, misalnya disebuah tebing atau di depan sebuah gua. Setelah kita berteriak, sesaat kemudian ada yang membalas teriakan kita. Hal ini terjadi juga karena bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi (yaitu teriakan kita) dipantulkan kembali. Pemantulan semacam ini dinamakan gema. Secara definisi, gema merupakan perulangan bunyi yang terdengar setelah bunyi ditimbulkan. Gema terjadi karena bunyi dipantulkan oleh suatu permukaan. Cepat atau lamanya kita mendengar gema bergantung pada seberapa jaur jarak kita dengan permukaan pemantul bunyi itu.
Peristiwa pemantulan bunyi tidak selalu merugikan, tetapi ada juga yang menguntungkan, misalnya ketika akan mengukur kedalaman laut dengan menggunakan sonar. Sonar atau sound navigation and ranging merupakan suatu metode untuk menaksir ukuran, bentuk, dan kedalaman benda-benda di bawah air (termasuk kedalaman laut) dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Sonar bekerja berdasarkan prinsip pemantulan bunyi.



Perkembangan penggunaan USG dalam berbagai bidang ilmu kedokteran saat ini, salah satunya adalah bidang obstetri ginekologi, berawal dari ditemukannya cara mengukur jarak di dalam air menggunakan gelombang suara. Pada saat itu dikenal istilah “sonar” atau Sound Navigation andRanging. Lazzaro Spallanzani, seorang ahli biologi Italia, dapat dikatakan sebagai orang yang mengilhami penemuan tersebut. Sekira tahun 1794 ia mendemonstrasikan kemampuan seekor kelelawar menentukan arah terbang dan mencari mangsa dalam gelap dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tiriggi (ultrasonik). Kelelawar tersebut memanfaatkan pantulan suara ultrasonik yang dikeluarkannya setelah menumbuk suatu objek. Sehingga ia tidak akan menabrak sebuah benda atau sebaliknya dapat menentukan lokasi mangsanya. Awal tahun 1826, Jean Daniel Colladon, seorang ahli fisika dari Swiss berhasil menggunakan sebuah alat yang dinamakan “underwater bell” untuk mendeterminasi kecepatan suara dalam air di Danau Geneva. Penemuan ini memacu para ahli fisika lainnya untuk meneliti dasar ilmu fisika mengenai getaran, transmisi, dan refraksi gelombang suara. Salah satu ahli fisika yangturut andil dalam penelitian itu adalah Lord Rayleigh asal Inggris. Tahun 1877 iamengemukakan the Theory of Sound yang intinya menerangkan bahwa gelombang suara adalah sebuah persamaan matematika. Persamaan mi membentuk dasar teori sistem kerja akustik.
Sistem deteksi suara dalam air kemudian dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan navigasi kapal selam selama perang dunia pertama berlangsung, khususnya setelah kejadian tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1912. Hal itu terjadi berkat penemuan alat hydrophone oleh seorang ahli fisika Perancis, Paul Langevin. Alat ini juga memanfaatkan pantulan gelombang ultrasonik.
Penemuan radar (radio detection and ranging) pada tahun 1953 oleh Robert Watson-Watt juga menerapkan sistem kerja gelombang ultrasonik. Seperti sonar, alat inipun menjadi inspirasi digunakannya ultrasonik dalam bidang obstetri ginekologi kelak. Hanya pemanfaatannya saat itu lebih banyak digunakan untuk kepentingan pelacakan kapal musuh di udara. Perkembangan pemakaian ultrasonik di bidang obstetri ginekologi berikutnya juga tak lepas dari peranan penemuan Sonar merupakan sistem yang menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak bawah laut. Sejauh ini sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.

Cara kerja perlengkapan sonar adalah dengan mengirim gelombang suara ke bawah permukaan dan kemudian menunggu untuk gelombang pantulan (echo). Data suara dipancar ulang keoperator melalui pengeras suara atau ditayangkan pada monitor.

Dua Jenis Sonar
Alat sonar pertama digolongkan sebagai sonar pasif, di mana tidak ada sinyal yang dikirim keluar.Pada tahun 1918 Inggris dan AS membuat sistem aktif, dimana sinyal sonar aktif dikirim dan diterima kembali. Misalnya saja untuk mengetahui jarak satu obyek, petugas sonar mengukur waktu yang diperlukan oleh sinyal sejak dipancarkan hingga diterima kembali. Karena tidak ada sinyal yang dikirim pada sistem pasif, alat hanya mendengarkan. Pada sistem pasif maju, ada bank data sonik (sumber bunyi) yang besar. Sistem komputer menggunakan bank data tadi untuk mengenali kelas kapal, juga aksinya (kecepatan atau senjata yang ditembakkan). Sonar merupakan sistem yang menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukurjarak bawah laut. Sejauh inii sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.

Menguak Mitos "Hantu Laut"





    

Sebagian masyarakat pesisir meyakini kalau penyakit kelumpuhan yang diderita para penyelam tradisional akibat diganggu oleh ”hantu laut”. Padahal, gangguan kesehatan itu sebenarnya penyakit dekompresi karena penyelaman dilakukan tidak sesuai dengan prosedur keselamatan.

Karena kurang informasi dan keterbatasan fasilitas, penyelam tradisional cenderung menggunakan alat seadanya, seperti kompresor tambal ban, untuk memasok udara saat menyelam ke dasar laut. Mereka bekerja sampai setengah hari di dalam laut untuk mengambil teripang, kerang, dan sisa barang di kapal karam. Hal itu berisiko tinggi terhadap kesehatan.

Susan H Manungkalit, dokter spesialis Kelautan dari Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta, mengatakan, penyakit dekompresi disebabkan mengembangnya secara mendadak gelembung udara dalam cairan tubuh saat penyelam naik ke permukaan air secara tiba-tiba. Ibaratnya saat kita membuka botol air berkarbonasi dengan tiba-tiba akan terlihat gelembung udara.

Susan menyatakan, hal itu berdasarkan hukum fisika Henry. Saat di permukaan, tekanan udara sebesar 1 atmosfer (atm) atau 760 milimeter Hg (mmHg) yang terdiri dari 20,9 persen oksigen dan 78,084 persen nitrogen. Selain itu, ada komponen lain dalam jumlah kecil, yaitu karbon dioksida, argon, neon, helium, kripton, xenon, hidrogen, metana, dan nitro oksida.

Ketika menyelam, setiap kedalaman 10 meter, tekanan udara bertambah 1 atm. Tekanan dari tiap gas ikut meningkat. Oksigen menjadi 0,4 atm dan nitrogen menjadi 1,6 atm. Sebagai gambaran, pada kedalaman 5 atm atau 40 meter, penyelam yang menghirup udara biasa dari tabung selam menghirup oksigen dengan tekanan parsial yang sama (1 atm) bila ia menghirup 100 persen oksigen di permukaan air.

Pada saat menyelam, volume udara yang mengecil karena tekanan air membuat gelembung udara mudah masuk ke dalam pembuluh darah.

Gelembung terperangkap
Dalam buku Pengantar Ilmu Kesehatan Penyelaman dinyatakan, oksigen yang dibutuhkan metabolisme manusia akan mudah terserap jaringan tubuh. Namun, nitrogen terlarut, yang tidak digunakan oleh tubuh, terakumulasi di pembuluh darah. Jika penyelaman berlangsung lama dan dalam, molekul udara, termasuk nitrogen, masuk ke simpul saraf.

Ketika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, gelembung udara yang terperangkap dalam sistem saraf tak sempat dilepaskan dan mengembang akibat tekanan berkurang mendadak, gelembung udara itu menekan saraf dan membuat bagian tubuh tidak bisa berfungsi. Hal inilah yang dianggap masyarakat pesisir sebagai penyakit hantu laut.
”Kalau molekul udara menekan medula spinalis (saraf di tengkuk) bisa menyebabkan kelumpuhan tangan dan kaki,” katanya.

Susan yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengibaratkan dekompresi seperti penyakit stroke. Bedanya, pada penyakit stroke penyumbat pembuluh darah adalah trombus (bekuan darah), sedangkan pada penyakit dekompresi penyumbatnya adalah gelembung udara (nitrogen).

Efeknya mirip, yaitu mati rasa, lumpuh, hingga kehilangan kesadaran. Adapun efek ringan dari dekompresi antara lain nyeri sendi, nyeri otot, atau gatal-gatal di kulit.
Menurut US Navy Diving Manual Revision 5, risiko terjadinya dekompresi pada orang yang menyelam selama 1 jam adalah 42 persen, pada penyelaman 3 jam 60 persen, penyelaman 8 jam risikonya 83 persen, dan penyelaman 24 jam risiko mengalami dekompresi 98 persen.

Terapi hiperbarik
Untuk mengatasi itu, penderita dekompresi harus segera dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas hiperbarik oksigenasi, seperti di RSAL Mintohardjo. Metode pengobatan disebut selam kering. Dalam ruang hiperbarik, pasien diberi terapi tekanan tertentu selama waktu tertentu. Tujuannya melarutkan gelembung udara, kemudian tubuh diberi kesempatan melepaskan perlahan-lahan.

Susan mengatakan, korban dapat sembuh jika diterapi dalam jangka waktu kurang dari enam jam setelah kejadian. Jika lebih dari itu, jaringan yang tersumbat dikhawatirkan telah mati sehingga ada gejala sisa.

Di lapangan, jika hal ini terjadi dan penyelam masih sadar, korban dapat dibawa kembali ke kedalaman sekitar 9 meter dan diberi oksigen murni. Jika tidak tersedia oksigen murni, cukup membawa penyelam ke kedalaman semula, kemudian naik ke permukaan sesuai prosedur sehingga nitrogen yang terlarut terlepas dari tubuh.

Harijanto Mahdi, dokter spesialis Kelautan dan spesialis Telinga Hidung Tenggorokan yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan (Perdokla), menyatakan, penyakit dekompresi jarang terjadi pada penyelam profesional dan Marinir. Hal itu karena mereka diberi pendidikan keselamatan.

Penelitian Susan di Kepulauan Seribu, tahun 1995, menunjukkan, sekitar 51,8 persen nelayan penyelam setempat menderita penyakit dekompresi.

Ia menambahkan, orang yang sebelum menyelam mengonsumsi alkohol, keletihan, dan kegemukan, tergolong berisiko terkena penyakit ini. Namun dengan melakukan penyelaman yang aman dan mengikuti tabel penyelaman (dari organisasi POSSI/CMAS, PADI, ADS, atau US Navy), seperti naik perlahan-lahan, memerhatikan batas-batas kedalaman, dan durasi penyelaman, risiko terjadinya penyakit itu sangat kecil. US Navy Diving Manual mensyaratkan seorang penyelam bergerak naik maksimum dengan kecepatan 60 kaki (sekitar 18 meter) per menit.

Bawah laut bukanlah alam bagi manusia. Banyak hal bisa terjadi ketika kita tidak dapat beradaptasi. Namun dengan prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan didukung kemajuan teknologi dan penelitian serta memerhatikan aturan penyelaman, kita dapat mengeksplorasi bawah laut dengan aman tanpa perlu takut dihinggapi hantu laut.

Kopdar di Bawah Laut



Author: Ridho


Bagi sebagian warga Saka Bahari mungkin ada yang sudah akrab dengan olahraga air yang satu ini. Ya, diving atau scuba diving memang olahraga bagi kalangan tertentu. Tapi sebenarnya siapapun bisa menjajal sensasi menyelam didalam laut ini. Berbagai macam biota laut dan ikan-ikan mungil beraneka bentuk dan warna serta terumbu karang yang sangat indah terhampar didasar samudera. Penasaran? Ingin mencoba menaklukan dunia bawah laut?
Diving atau menyelam merupakan kegiatan yang menyenangkan dan aman, asalkan Motobikers memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai seputar olahraga air ini.  Faktor yang cukup berpengaruh sebelum memulai diving adalah menyangkut kesiapan fisik dan kesehatan. Jika Motobikers tidak mengikuti prosedur keselamatan yang sudah ditetapkan, akan menimbulkan resiko bahaya dalam kegiatan ini.
Untuk melakukan diving secara aman, anda dianjurkan memiliki berat badan ideal. Jika motobikers memiliki berat badan yang berlebihan, olahraga ini tidak dianjurkan. Pasalnya, diving termasuk olah raga berat yang mengharuskan sistem pernafasan dan sirkulasi darah harus dalam keadaan yang baik. Jika Motobikers memiliki penyakit jantung, sedang flu, atau penyumbatan saluran pernafasan, epilepsi, gangguan medis serius, atau di bawah pengaruh alkohol dan zat narkoba tidak disarankan untuk melakukan diving.  Selain itu, Motobikers harus mempelajari aturan-aturan penting tentang keselamatan meliputi cara bernafas dan proses ekualisasi selama melakukan diving dari instuktur.
Anda yang hobi diving, jangan lupa untuk menyambangi kawasan Bali. Selain eksotika bawah laut yang masih alami, suasana nyaman menjadi nilai plus tersendiri. Tercatat lima daerah besar yang kerap dikunjungi penyelam di Bali. Tempat tersebut adalah Nusa Dua dan Sanur, Nusa Penida, Padang Bai dan Candi Dasa, Cemeluk dan Tulamben, serta Pemuteran dan Menjangan. Masing-masing area memiliki karakteristik dan keunikan yang tidak didapat ditempat lain. Mulai dari penyelam semi professional hingga penyelam yang sudah mahir bisa melakukan penyelaman disini. Motobikers juga bisa menemukan beberapa bagian kecil daerah berkarang di Bali yang berada di bawah batas aman penyelaman yakni pada kedalaman sampai 40 meter.
Walau sangat menyenangkan, diving pada dasarnya merupakan olahraga penuh resiko. Namun demikian, jika motobikers melakukan diving sesuai prosedur keamanan dan keselamatan, kegiatan menyelam ini akan sangat menyenangkan, aman dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan saat menyelam.

Berikut beberapa tips sebelum memulai diving :
  1. Ikuti pelatihan diving dan dapatkan kualifikasi dari lembaga yang sudah terdaftar seperti PADI, SSI, CMAS dan lainnya.
  2. Berkomunikasi dengan pelatih atau instruktur yang akan melatih Motobikers. Pastikan bro mendapatkan apa yang diharapkan, tentu saja disesuaikan dengan aturan keselamatan dan kondisi lingkungan.
  3. Mintalah referensi dari teman – teman Motobikers yang telah menjalani pelatihan scuba diving.
  4. Lakukan olahraga renang sebelum memulai diving, biasanya bro akan diminta menunjukan kemampuan berenang 200 meter tanpa henti dan kemampuan mengambang selama 10 menit di kolam renang.
  5. Setelah mendapatkan kualifikasi atau sertifikat diving, janganlah pergi menyelam di tempat yang berbahaya. Apalagi kalau bro belum memiliki kemampuan ataupun kualifikasinya, seperti gua dasar laut,  kapal karam, perairan berarus kencang dan lain – lain. Ikutilah pelatihan lanjutan untuk dapat melakukan penyelaman tersebut.
  6. Periksa peralatan diving dengan cermat dan pastikan fungsi kerja masing-masing peralatan. Terutama bila  bro menyewa peralatan tersebut (peralatan bukan milik pribadi).
  7. Cari tahu tentang cuaca di tempat diving sebelum pergi menyelam. Pastikan bahwa suhu air dan kondisi cuaca cukup aman untuk melakukan penyelaman.
  8. Lindungi kulit dengan waterproof sunscreen yang mengandung Sun Protection Factor (SPF).Gunakanlah sunglasses untuk melindungi mata dari sinar matahari. Pilih kacamata hitam yang bisa menyerap setidaknya 90 persen dari sinar matahari.
Untuk terus menjaga keselamatan saat menyelam, ikuti anjuran instruktur.

Prosedur keselamatan selam perlu diperketat


Oleh Aprika R. Hernanda



JAKARTA: Praktisi selam di Indonesia perlu memperketat pengawasan pelaksanaan prosedur keselamatan aktivitas ekstrem ini untuk menghindari korban kecelakaan di bawah air.
Hal itu ditegaskan Senior Professional Diving Instructor Indonesia Cipto Aji Gunawan, yang saat ini juga sebagai Marine and Eco-Tourism Development Consultant Kementerian Pariwisata menyusul tewasnya wartawan Trans7 Ahmad Syakir di Pulau Seribu kemarin.
Korban meninggal akibat asma yang kambuh pada saat dalam proses menyelesaikan ujian selam untuk mendapat lisence open water diver yang diperlukan untuk menunjang profesinya sebagai kru program Dunia Air yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta itu.

"Pelanggaran mendasar adalah korban belum menyerahkan medical statement, padahal menurut standarnya medical statement wajib diserahkan sebelum dilakukan kegiatan di air. Ini pelanggaran serius instrukturnya," tukas Cipto kepada Bisnis hari ini.

Dalam proses mengambil sertifikasi selam yang diakui secara internasional baik Confederation Mondiale des Activites Subaquatiques (CMAS), Professional Association of Diving Instructor (PADI), Scuba School Internasional (SSI), juga POSSI, calon penyelam diwajibkan mengikuti tiga tahapan yaitu ujian teori, kelas kolam, dan open water (laut).
Dalam proses seleksi teori, calon penyelam harus menyerahkan catatan kesehatan atau medical statement karena orang dengan penyakit tertentu tidak diperbolehkan melakukan penyelaman dan dipastikan tidak akan memperoleh sertifikat.
Cipto menyatakan penderita asma harus mendapatkan pengawasan dokter untuk dinyatakan boleh atau tidak mengikuti aktivitas di bawah air dengan penyelaman. Karena itu, insiden tersebut dapat dikategorikan kelalaian yang menyebabkan kematian orang lain.

"Sekarang harus dilihat apakah standar itu juga diterapkan oleh organisasi dari si instruktur atau tidak, kalau tidak organisasi bisa ikut dipersalahkan karena pelanggaran ini."

Pada insiden yang menimpa Ahmad Syakir kemarin, Cipto menuturkan pelanggaran administrasi ini menyebabkan instruktur tidak mengetahui anak didiknya menderita penyakit asma secara aktif.
"Sanksi hukum pidana di Indonesia bisa diterapkan, tetapi apakah pihak keluarga korban atau polisi mengetahui atau tidak kalau ini akibat ada prosedur administrasi pelatihan yang dilanggar? Di Indonesia hal ini sering tidak diketahui dan banyak ditutup-tutupi sehingga kecelakaan semacam itu dianggap hanya apes. Di AS, ini sudah masuk dalam kategori second degree murder," tegasnya.
Kepala Divisi Pemberitaan Trans7 Titin Rosmasari mengakui korban adalah reporter yang memang sedang belajar selam. Namun, kegiatan di Pulau Seribu kemarin dibantahnya bukan dalam rangka penugasan.
"Kantor kami memang memberikan fasilitas kepada camera persons untuk memiliki sertifikat selam untuk menunjang pengambilan gambar. Tetapi mereka ke Pulau Seribu tidak dalam rangka penugasan, bukan liputan," ujarnya.
Instuktur selam Ahmad, Leo, menjelaskan korban mengalami gangguan kesehatan pada saat snorkeling di sekitar dermaga kayu Pulau Pramuka. "Korban tidak menyelam, hanya snorkeling di sekitar dermaga, karena memang saat itu bukan waktunya menyelam."
Meski hanya sekedar snorkeling, Ahmad diketahui menggunakan alat lengkap termasuk pakaian selam (wetsuit), masker dan snorkel. Ahmad diduga tersedak (choking) karena serangan asma. Namun, Leo mengaku tidak mengetahui Ahmad penderita asma sehingga pertolongan dilakukan dengan memberikan CPR (cardio pulmonary resuscitation) sebelum dilarikan di RS Pramuka. (arh)

MENYELAM DENGAN AMAN DAN MENYENANGKAN



Olahraga menyelam SCUBA, tak dapat dipungkiri memang olahraga yang berbahaya. Tetapi anda dapat menyelam dengan aman, menyenangkan dan bebas dari kecelakaan dengan mengikuti beberapa peraturan keselamatan selam:

1. Ikuti kursus menyelam dan dapatkan sertifikat menyelam anda yang pertama Open Water Diver, sebelum turut serta dalam penyelaman SCUBA. Jangan sekali-kali mencoba menyelam SCUBA tanpa mengikuti kursus selam dan mendapat sertifikat terlebih dahulu!

2. Periksakan kesehatan anda. Pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi kesehatan paru-paru (termasuk pemeriksaan X-Ray Thorax), THT, tekanan darah dan sebagainya.

3. Lakukan swim test sebelum mengikuti kursus selam. Anda harus mengetahui dan menguasai beberapa skill dasar renang.

4. Setelah anda lulus dan mendapat sertifikat, jangan menyelam di tempat-tempat yang berbahaya, seperti tempat yang berarus kuat atau shipwreck (reruntuhan kapal tenggelam). Pendidikan lanjutan dan pengalaman diperlukan untuk menyelam di tempat-tempat seperti itu.

5. Jangan pernah menyelam sendirian. Anda harus ditemani seorang buddy.

6. Dengarkan pengarahan dan ikuti aturan yang diberikan oleh divemaster yang memimpin penyelaman.

7. Periksa peralatan selam anda! Khususnya jika anda menyewa peralatan selam tersebut. Pastikan semua diving equipment terpasang dengan benar dan bekerja dengan semestinya.

8. Perhatikan keadaan cuaca sebelum menyelam. Air adalah penghantar listrik. Segera tinggalkan
air (laut) begitu mendengar petir menyambar di kejauhan.

9. Lindungi kulit anda dengan sunscreen / sunblock. Perhatikan kandungan bahan yang terdapat di dalamnya.

10. Perbanyak minum. Tubuh anda akan membutuhkan banyak air. Hindari dehidrasi.

11. Setelah anda berada dalam air, jaga tangan anda! Jangan menyentuh atau memegang makhluk laut yang indah dipandang, apalagi jika anda tidak mengenakan gloves.

12. Perhatikan dengan seksama sekeliling anda sebelum exit. Dengarkan apakah ada speed boat yang akan melintas. Jet ski yang melaju kencang juga merupakan ancaman serius bagi kepala anda. Gunakan surface signalling device seperti bendera “diver below” di tempat anda menyelam.

13. Jika memungkinkan, lanjutkan pendidikan selam anda ke jenjang berikutnya. Artikel ini saya tujukan untuk anda yang bermaksud belajar menyelam, dan juga kepada para orang tua yang belum mengijinkan anaknya untuk belajar menyelam. Semoga bermanfaat! Go Dive … Dive Safe ….
penulis : AL. FURKAN (ketua FDC periode 2010-2011)
penyunting : irfan alwi (HUMAS FDC periode 2010-2011)

Ketika Helikopter Jatuh di Laut …

Ketika Helikopter Jatuh di Laut …
 Kompasianer menilai Bermanfaat

         

“May day…May day… May day…kita akan segera landing darurat di laut …persiapan pendaratan di laut…” terlihat kepanikan pilot mengucapkan kata-kata itu, meskipun dibuat tenang.
Dillanjutkan dengan isyarat tangan pilot ‘turun naik’ dengan telapak tangan dibawah yang diarahkan kepada para penumpang sebagai syarat untuk landing darurat atau ditching di laut.
Hanya itu saja penggalan kata-kata terakhir captain pilot helikopter C 155 B 1 yang terakhir saya dengar dan beberapa detik kemudian…. “Byurrrrr….disertai suara ledakan yang keras ketika tubuh helikopter yang kami tumpangi menghantam permukaan air laut dan tenggelam secara perlahan…

Tak berapa lama, posisi helikopter terbalik tanpa kami mampu untuk berbuat hal lain dalam keadaan panik dan putus asa. Apalagi untuk mencoba membuka ‘safety belt’ atau sabuk pengaman masih terikat di tubuh.
Badan helikopter semakin lama semakin tenggelam dengan posisi terbalik, bagian baling-baling atas kearah bawah dan bagian bawah helikopter menjadi keatas dibawah laut.
Dingin, sunyi, kelam dan asinnya air laut secara perlahan namun pasti menjebol tenggorokan yang membuat kami semakin tercekat tidak berdaya….

Demikian skenario latihan yang harus penulis rasakan dalam mengikuti sebuah pelatihan “Helicopter Underwater Escape Training” atau “HUET” yang dilaksanakan oleh penyedia training PT Bumi Liputan Pusaka, beberapa hari yang lalu di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tulisan ini mencoba menjelaskan apa yang harus kita lakukan ketika suatu saat menumpang helikopter mendarat darurat (ditching) dan jatuh ke laut.
Bagaimana cara penyelamatan dan lolos dari bahaya sampai bantuan “Search and Rescue” datang.

Helikopter merupakan sarana angkutan udara yang paling aman.
Pada era kemajuan tekhnologi yang sedemikian pesat ini, peranan helikopter sebagai sarana angkutan udara merupakan hal yang penting dan aman. Ini disebabkan karena perawatan helikopter sangat berbeda jika dibandingkan dengan sarana angkutan orang/barang di darat ataupun dilaut. Beberapa faktor keselamatan udara degan helikopter dapat dilihat mulai dari pengujian kemampuan pilot secara berkala dan berkesinambungan. Kemampuan dan “atittude” terbang pilot biasanya diuji dan dilakukan secara periodik. Hal ini tidak kita dapatkan pada angkutan darat dan laut seperti ‘pilot’ bus dan kapal laut.

Selain itu, perkembangan tekhnologi helikopter semakin lama semakin canggih. Misalnya, kemampuan jelajah terbang helikopter C 551 B 1 dapat mencapai 21.000 kaki atau beberapa kilometer diatas permukaan bumi, hampir menyamai kemampuan jelajah pesawat ‘fix wing’ atau pesawat bersayap lainnya. Padahal, kemampuan rata-rata helikopter sekarang masih dibawah itu.

Kecanggihan helikopter dalam menjamin keselamatan penumpangnya kini juga semakin didukung tekhnologi yang sangat tinggi. Misalnya, beberapa alat bantu keselamatan udara terpasang secara otomatis seperti; Crash Position Indicator (CPI) yang diletakkkan di rotor belakang dan akan berfungsi secara otomatis jika terjadi keadaan darurat, ILT, EPIRB dan PLB. Kesemuanya merupakan alat bantu menemukan keselamatan helikopter jika terjadi keadaan darurat sehingga dapat terdeteksi dan memudahkan proses SAR dalam menyelamatkan para penumpangnya.

Tindakan Ketika Helikopter Jatuh.
“Do not be panic” ..itu merupakan tindakan pertama ketika kita helikopter yang kita tumpangi jatuh ke laut. Karena ketika kita dalam keadaan panik, kita tidak dapat berbuat apa-apa atau bahkan berbuat sesuatu yang lebih berbahaya/membahayakan orang lain. Misalnya, kalau kita meronta-ronta dan memukul dan menendang kanan kiri karena panik dapat berakibat fatal bagi kita dan orang lai disamping kita. Atau bahkan kita menjadi tak dapat membuka ’safety belt’ yang terpasang di badan kita sebelum akhirnya kita kehilangan nafas. Panik merupakan hal wajar dilakukan setiap manusia, namun masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengendalikan panik tersebut sehingga pada akhirnya dapat menyelamatkan kita dan orabng lain.

Saat pelatihan, kita dimasukkan ke dalam ruang simulasi seperti replika badan helikopter sungguhan dengan ketelitian alat peralatan yang menyerupai bentuk aslinya seperti; pintu, jendela, kaca, ruang kokpit, tempat duduk dan seat belt yang ketelitiannya mirip sekali dengan helikopter aslinya. Kemudian, di darat setelah kita memasang sabuk pengaman, kemudian ada aba-aba dari instruktur dan pilot menyatakan “keadaan darurat, persiapan mendarat di laut”….dan byuuurrrr…helikopter kita diluncur terbalik dan jatuh ke air seketika (dlm latihan diperagakan di kolam renang).

Untuk mengatasi panik di bawah air dengan posisi kepala di bawah, menghilangkan gelembung udara dan agar tidak kehilangan arah atau disorientasi, maka kita diwajibkan tahan nafas dan diam ditempat dengan menghitung dalam hati “seribu…, dua ribu…tiga ribu…empat ribu..dan lima ribu..” Setelah itu, ketika gelelmbung udara sudah tidak ada diatas kita dan kita tidak kehilangan arah untuk berenang ke atas permukaan air, barulah kita coba membuka pintu, atau jendela helikopter, selanjutnya setelah tangan kita menggapai pintu atau jendela, baru tangan kita yang lain membuka ’seat belt’ dan berenang keluar helikopter untuk penyelamatan.

Melakukan hal sederhana ini kelihatan gampang, namun penuh dengan tingkat stres yang tinggi. Bayangkan ketika di darat, pepala kita di atas semuanya terasa normal. Namun ketika helikopter dijatuhkan dan dibalik ke air dan kita dalam keadaan terbalik dengan ‘safety belt’ masih terikat di badan….beberapa langkah teori tersebut di atas pasti jarang kita urutkan dengan sempurna. Panik…panik… dan panik lagi…..di tambah jika air sudah masuk ke dalam hidung akan terasa sampai ke kepala apalagi dijungkirkan terbalik di bawah badan kita…..suatu pengalaman yang mengasikkan dan sekaligus mendebarkan. Namun kita dituntut harus keluar dari helikopter dan mengapung di permukaan sebelum bantuan datang. Hal ini diulangi beberapa kali, mulai keluar dari jendela, kemudian diulangi lagi, keluar dari pintu dan terakhir keluar dari kaca depan yang dipecahkan. Suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Beberapa catatan penting perlu diingat dalam penyelamatan diri ketika helikopter jatuh dilaut. Pertama; 92 % penumpang akan selamat jika mendapat informasi dan penjelasan dari pilot lebih kurang dari 1 menit terlebih dahulu. Kemudian 78 % akan selamat jika telah mendapatkan info dari captain kurang dari 11 detik.  
Kedua; usahakan menahan untuk tidak meminum air laut, karena air laut di dalam tubuh akan memperparah paru-paru kita dalam bernafas dan melemaskan keadaan tubuh lainnya. Ketiga; jangan langsung membuka ’seat belt’, saat helikopter jatuh, karena kemungkinan kita disorientasi dan ada barang-barang lain diatas kepala kita ketika pesawat terbalik di laut. Usahakan membuka ’seat belt’ sesudah tidak ada gelembung udara, tidak kehilangan arah dan sudah menemukan arah keluar pintu maupun jendela.
Terakhir, tentu saja ” do not be panic” ….Semoga bermanfaat.

Hiperbarik Chambers

Hiperbarik Chambers



Awal mulai HBOT
Terapi hiperbarik mungkin baru segelintir orang yang mengenalnya. Di Indonesia, pemanfaatna HBOT pertama kali  oleh Lakesla yang bekerja sama dengan RS Angkatan Laut Dr. Ramelan, Surabaya, tahun 1960.  Hingga saat ini fasilitas tersebut masih merupakan yang paling besar di Indonesia. Sementara di tempat lain telah tersedia pula fasilitas terapi oksigen hiperbarik, diantaranya adalah RSAL Dr Mintohardjo Jakarta, RSAL Halong Ambon, RSAL Midiato, RSP Balikpapan, RSP Cilacap, RSU Makasar, RSU Manado, RSU Sangla Denpasar, dan Diskes Koarmabar.

Dasar dari terapi hiperbarik sedikit banyak mengandung prinsip fisika. Teori Toricelli yang mendasari terapi digunakan untuk menentukan tekanan udara 1 atm adalah 760 mmHg. Dalam tekanan udara tersebut komposisi unsur-unsur udara yang terkandung di dalamnya mengandung Nitrogen (N2) 79 % dan Oksigen (O2) 21%. Dalam pernafasan kita pun demikian. Pada terapi hiperbarik oksigen ruangan yang disediakan mengandung Oksigen (O2) 100%. Terapi hiperbarik juga berdasarkan teori fisika dasar dari hukum-hukum Dalton, Boyle, Charles dan Henry.

Sedangkan prinsip yang dianut secara fisiologis adalah bahwa tidak adanya O2 pada tingkat seluler akan menyebabkan  gangguan kehidupan pada semua organisme. Oksigen yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan diffusi. Dengan kondisi tekanan oksigen yang tinggi, diharapkan matriks seluler yang menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan kondisi yang optimal.

Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dimana pasien dalam suatu ruangan menghisap oksigen tekanan tinggi (100%) atau pada tekanan barometer tinggi (hyperbaric chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT bertekanan udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) yang dirancang baik untuk kasus penyelaman maupun pengobatan penyakit klinis. Individu yang mendapat pengobatan HBOT adalah suatu keadaan individu yang berada di dalam ruangan bertekanan tinggi (> 1 ATA) dan bernafas dengan oksigen 100%. Tekanan atmosfer pada permukaan air laut sebesar 1 atm. Setiap penurunan kedalaman 33 kaki, tekanan akan naik 1 atm. Seorang ahli terapi hiperbarik, Laksma Dr. dr. M. Guritno S, SMHS, DEA yang telah mendalami ilmu oksigen hiperbarik di Perancis selama 5 tahun menjelaskan bahwa terdapat dua jenis dari terapi hiperbarik, efek mekanik dan fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma.

Mekanisme HBOT

HBOT memiliki mekanisme dengan memodulasi nitrit okside (NO) pada sel endotel. Pada sel endotel ini HBOT juga meningkatkan intermediet vaskuler endotel growth factor (VEGF). Melalui siklus Krebs terjadi peningkatan NADH yang memicu peningkatan fibroblast. Fibroblast yang diperlukan untuk sintesis proteoglikan dan bersama dengan VEGF akan memacu kolagen sintesis pada proses remodeling, salah satu tahapan dalam penyembuhan luka.

Mekanisme di atas berhubungan dengan salah satu manfaat utama HBOT yaitu untuk wound healing. Pada bagian luka terdapat bagian tubuh yang mengalami edema dan infeksi. Di bagian edema ini terdapat radikal bebas dalam jumlah yang besar. Daerah edema ini mengalami kondisi hipo-oksigen karena hipoperfusi. Peningkatan fibroblast sebagaimana telah disinggung sebelumnya akan mendorong terjadinya vasodilatasi pada daerah edema tersebut. Jadilah kondisi daerah luka tersebut menjadi hipervaskular, hiperseluler dan hiperoksia. Dengan pemaparan oksigen tekanan tinggi, terjadi peningkatan IFN-γ, i-NOS dan VEGF. IFN- γ menyebabkan TH-1 meningkat yang berpengaruh pada B-cell sehingga terjadi pengingkatan Ig-G. Dengan meningkatnya Ig-G, efek fagositosis leukosit juga akan meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada luka, HBOT berfungsi menurunkan infeksi dan edema..

Adapun cara HBOT pada prinsipnya adalah diawali dengan pemberianO2 100%, tekanan 2 – 3 Atm . Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan pengobatan decompresion sickness. Maka akan terjadikerusakan jaringan, penyembuhan luka, hipoksia sekitar luka. Kondisi ini akan memicu meningkatnya fibroblast, sintesa kolagen, rasio RNA/DNA, peningkatan leukosit killing, serta angiogenesis yang menyebabkan neovaskularisasi jaringan luka. Kemudian akan terjadi peningkatan dan perbaikan aliran darah mikrovaskular. Densitas kapiler meningkat sehingga daerah yang mengalami iskemia akan mengalami reperfusi. Sebagai respon, akan terjadi peningkatan NO hingga 4 – 5 kali dengan diiringi pemberian oksigen hiperbarik 2-3 ATA selama 2 jam. Hasilnya pun cukup memuaskan, yaitu penyembuhan jaringan luka. Terapi ini paling banyak dilakukan pada pasien dengan diabetes mellitus dimana memiliki luka yang sukar sembuh karena buruknya perfusi perifer dan oksigenasi jaringan di distal.

Indikasi-indikasi lain dilakukannya HBOT adalah untuk mempercepat penyembuhan penyakit, luka akibat radiasi, cedera kompresi, osteomyelitis, intoksikasi karbonmonoksida, emboli udara, gangren, infeksi jaringan lunak yang sudah nekrotik, Skin graft dan flap, luka bakar, abses intrakranial dan anemia.

Prosedur pemberian HBOT yang dilakukan pada tekanan 2-3 ATA-90 dengan O2 intermitten akan mencegah keracunan O2. Menurut Paul Bert, efeksamping biasanyaakan mengenai sistem saraf pusat seperti timbulnya mual, kedutan pada otot muka dan perifer serta kejang. Sedang menurut Lorrain Smith, efek samping bisamengenai paru-paru yaitu batuk, sesak dan nyeri substernal.

HBOT Meningkatkan Sensitivitas Radioterapi
Penanganan kanker pada umumnya melalui tahapan terapi operasi, radioterapi, kemoterapi dan hormonal. Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, oksigen hiperbarik dan herbal merupakan salah satu pilihan untuk meningkatkan sensitifitas efek radioterapi sehingga dapat membantu menekan angka kematian dan meningkatkan angka harapan hidup. Rumkital Dr. Ramelan Surabaya telah memiliki Instalasi Radioterapi dan Oksigen yang merupakan bagian dari unggulan fasilitas kesehatan.

Penelitian hubungan tekanan oksigen dengan radioterapi pada manusia sudah dimulai sejak tahun 1910 oleh Deche. Sedangkan menurut Guritno, yang pada saat diwawancarai masih menjabat sebagai direktur RSAL Dr Ramelan Surabaya, HBOT bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas sel tumor pada radioterapi. Karena pada kondisi hipoksia sensitifitas sel tumor menurun, sehingga dengan HBOT yang meningkatkan perfusi. Dengan demikian akan tercipta kondisi hiperoksia yang menyebabkan sensitifitas sel tumor meningkat. HBOT tentunya juga akan bermanfaat pada healing injury post radioterapi.

Studi dan telaah dilakukan seorang ahli HBOT muda, dr. Arie Widiyasa Sp.OG, Kabag KESLA RSAL Ilyas Tarakan, mengenai pengaruh HBOT terhadap kanker serviks. Kombinasi antara radiasi baik eksternal atau brachiterapi atau keduanya yang dikombinasikan dengan pemberian HBOT akan meningkatkan radiosensitivitas sel kanker serviks. Salah satu modalitas yang dapat dikembangkan saat ini adalah terapi dengan menggunakan oksigen bertekanan tinggi diberikan dengan tekanan 2,0 ATA, 2,4 ATA atau 3 ATA sebanyak 20 – 30 kali dapat dipertimbangkan walau harus tetap mempertimbangkan untung ruginya tindakan tersebut. HBOT dapat memperbaiki sensitivitas sel tumor, meningkatkan persentase angka survival rate, tak jelas dapat mencegah rekurensi atau menurunkan angka kematian. Dengan demikian komplikasi pemberian radioterapi dosis tinggi dapat dicegah sebelum kerusakan menjadi berat dan irreversibel.

Manfaat pada Pasien Post Radioterapi
Dewasa ini terapi radiasi dinilai cukup efektif untuk menangani beberapa kasus kanker yang tidakoperable. Namun efek samping radiasi yang bersifat sistemik agaknya sulit untuk dihindari. Contohnya pada radioterapi pelvis yang akan menyebabkan rusaknya epitel, parenkim, stroma, vaskuler rektum dan berujung pada terbentuknya striktur dan fistula. Sayangnya pula terapi yang dilakukan terhadap efek samping tersebut sering tidak berhasil sehingga akan terjadi kerusakan komplek serta terbentuknya mediator yang menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, kemotaksis, demam, rasa sakit dan kerusakan jaringan. American Society for Therapeutic Radiology and Oncologymembuat sistem scoring efek samping akut dan efek samping lama.

Menurut Dr. dr. Suyanto Sidik Sp.PD, ahli HBOT dari RSAL Dr. Mintohardjo, radioterapi akan memberikan efek samping seperti rusaknya epitel, parenkim, dan vaskuler dari tubuh. Manifestasi yang paling sering adalah timbulnya struktur dan fistel. Pada umumnya setelah 6 bulan akan terjadi hipoksia, hipovaskuler dan hiposeluler pada jaringan yang terpapar radiasi. Celakanya terapi efek samping ini seringkali gagal karena kerusakan komplek pada jaringan. Terdapat gangguan permeabilitas pembuluh darah, kemotaksis yang disertai manifestasi klinis demam dan nyeri. Terapinya tentu saja adalah dengan meningkatkan aliran darah ke daerah yang hipovaskuler tersebut. Jadi mekanisme penyembuhan luka untuk post radiasi adalah meningkatkan vaskularisasi, memperbaiki fungsi epitel, meningkatkan VEGF, mengatur sintesis dan lisis kolagen. HBOT meningkatkan aktivasi arginin yang berefek pada kolagen sintesis, dan mensupport kontraksi otot.

Sebagai contoh pengobatan HBOT pada injury radiasi dengan proktitis radiasi sebagai model. Efek samping dari terapi radiasi pada karsinoma rongga pelvis adalah proktitis radiasi. Efek samping ini bermanifestasi tergantung dari dosis, fraksinasi, luas dan teknik radiasi. Adanya riwayat radioterapi pelvis biasanya ditandai dengan gejala : sakit perut, diare, anorexia, dan mual. Pada pemeriksaan rekto-sigmoidokopi didapatkan erythema, edema, teleangiektasis, erosi, bahkan ulkus. Pada pemeriksaan PA diketahui adanya sebukan sel radang diikuti gambaran histologik lamina propia terhialinisasi, sub mucosa fibrotik, ektasia vaskuler, nekrosis fibrinoid yang dibandingkan dengan pembuluh darah fibroblas atipik. Gejala yang merupakan manifestasi dari efek samping akut ini biasanya muncul dengan frekuensi 50 – 70 %. Sedangkan efek samping lanjutan umumnya bermanfest dengan sakit perut, tenesmus, dan hematochezia. Gejala efek samping jenis ini biasanya hanya timbul 2,5 – 25 %. Efek yang lebih berat lagi apabila gejala efek samping tersebut disertai dengan diare lendir dan darah.

Pada kanker nasofaring yang mendapat radioterapi, HBOT dapat berguna untuk pencegahan terjadinyamandibular necrosis. Pada kanker leher rahim dan kanker prostat yang mendapat radioterapi HBOT bisa untuk prevensi radiosistitis. Pasien Face-off, Lisa, yang sempat menghebohkan dunia bedah plastik sebelum ini, sempat membuat pusing para dokter yang merawatnya karena kecenderungan nekrosis flap hasil pemindahan. Atas saran Guritno, Lisa akhirnya diterapi HBOT, dan hasilnya cukup baik. Kulit yang sebelumnya ditakutkan akan nekrosis menjadi pulih kembali.


Terapi oksigen hiperbarik adalah suatu terapi dimana penderita akan dimasukkan ke dalam suatu tabung yang terbuat dari plat baja atau aluminium alloy yang diisi dengan oksigen murni pada tekanan atmosfer tertentu.




Penggunaan hiperbarik oksigen untuk pengobatan suatu penyakit sudah lama digunakan, dan perkembangannya sangat pesat di beberapa negara.
Terapi ini menjadi dikenal di Indonesia, pada saat bencana alam Tsunami Aceh, atau bencana gempa di Bantul, dimana banyak orang yang terancam diamputasi kakinya karena tertimpa bangunan atau luka yang parah. Terapi oksigen hiperbarik terbukti ampuh sebagai terapi penunjang (selain terapi obat oleh dokter) yang dapat menghindarkan dari ancaman amputasi organ tubuh.
Selain itu terapi oksigen hiperbarik dapat mengobati penyakit degeneratif kronis seperti arterio sclerosis, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, ulser diabetik, serebral palsy, trauma otak, slerosis multiple dan penyembuhan luka. Terapi ini meluas pemakaiannya sebagai terapi kebugaran tubuh dan untuk kecantikan sebagai terapi supaya awet muda.
Di Indonesia perkembangannya diawali dengan keberadaan instalasi ruang kompresi pada saat dibangunnya Graving dock, di Ujung, Surabaya yang digunakan untuk mengobati penderita dekompresi. Sampai saat ini fasilitas hiperbarik tersedia di beberapa rumah sakit di Indonesia terutama rumah sakit TNI AL dan rumah sakit yang berhubungan dengan pertambangan :
- RS PT Arun, Aceh;

- RSAL Dr Midiyatos, Tanjung Pinang;
- RSAL Dr Mintohardjo, Jakarta;
- RS Pertamina Cilacap;
- RS Panti Waluyo, Solo;
- Lakesla TNI AL, Surabaya;
- RSU Sanglah, Denpasar;
- RS Pertamina Balikpapan;
- RSU Makasar;
- RS Gunung Wenang, Manado;
- RSAL Halong, Ambon;
- RS Petromer, Sorong.
Terapi Oksigen hiperbarik pertamakali oleh Behnke 1930 digunakan untuk rekompresi (mengembalikan tekanan) para penyelam untuk menghilangkan simptom penyakit dekompresi (Caisson’s Disease) setelah menyelam. Penyakit dekompresi adalah penyakit yang terjadi karena perubahan tekanan. Misalnya saat kita menyelam atau kalo kita naik pesawat terbang tekanan naik), akan terjadi pelepasan dan mengembangnya gelembung2 gas dalam organ. Jika kita kembali ke tekanan awal, maka akan terjadi perubahan tekanan yang dapat menganggu fungsi beberapa organ tubuh / penyakit dekompresi.
Pemakaian Oksigen Hiperbarik dikembangkan sebagai komplemen terhadap efek radiasi pada perawatan kanker oleh Churchill Davidson pada tahun 1950 selain dikenal sebagai perawatan penunjang selama pembedahan jantung, perawatan gas gangrene klostridial, dan perawatan terhadap keracunan karbon monoksida. Oksigen hiperbarik mulai dikenal untuk menunjang penyembuhan luka pada tahun 1965 pada korban luka akibat ledakan pada tambang minyak dengan keracunan karbon monoksida diketahui dengan penggunaan oksigen hiperbarik, penyembuhan terjadi lebih cepat.
Terapi oksigen hiperbarik dilakukan pada suatu ruang hiperbarik (Hyperbaric chambers) yang dibedakan menjadi 2 yaitu : Multiplace dan Monoplace. Multiple chamber dapat digunakan untuk beberapa penderita pada waktu yang bersamaan, sedangkan pada monoplace digunakan untuk pengobatan satu orang penderita saja .Tidak perlu penggunaan masker atau sarung tangan dalam chamber kecuali pada kasus keracunan karbon monoksida atau inhalasi asap. Di dalam ruangan, chamber  penderita dapat melakukan aktivitas apa saja seperti mendengarkan musik, membaca, atau bahkan senam aerobik. Hehehe. Untuk Penelitian, hewan coba pun bisa dimasukkan chamber.
Dosis Perawatan oksigen Hiperbarik yaitu dengan memberikan tekanan 100 % oksigen yang lebih besar dari tekanan oksigen murni secara terus menerus pada tubuh, dengan tekanan sebesar 2 atmosphere absolute (ATA) sampai 3 ATA. Untuk perawatan luka khusus bagi kecelakaan penyelaman, kasus yang menggunakan hiperbarik oksigen pertamakali, membutuhkan tekanan 100% oksigen selama 90 menit pada kedalaman 45 feet of sea water (fsw) – 13.7m of sea water (msw) or 1.38 bar atau sesuai dengan 2,36 (ATA). Dosis yang digunakan pada perawatan HBOT tidak boleh lebih dari 3 ATA karena tidak aman untuk pasien dengan status debil selain berkaitan dengan lamanya perawatan yang dibutuhkan, juga dikatakan bahwa tekanan diatas 2,5 ATA mempunyai efek imunosupresif.
Pada kebanyakan perawatan, waktu setiap sesi HBOT adalah 90 menit sampai 120 menit sekali  sampai dua kali dalam sehari isesuaikan dengan kondisi jaringan serta perawatan yang diperlukan. Biasanya sebagai terapi dibutuhkan 10 sesi perawatan ( untuk kebugaran tubuh dan kecantikan ) atau lebih sesuai dengan kondisi.
Perawatan HBOT berfungsi untuk :
1. Meningkatkan konsentrasi oksigen pada seluruh jaringan tubuh, bahkan pada aliran darah yang berkurang
2. Merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru untuk meningkatkan aliran darah pada sirkulasi yang berkurang.
3. Menyebabkan pelebaran arteri rebound sehingga meningkatkan diameter pembuluh darah, dibanding pada permulaan terapi.
4. Merangsang fungsi adaptif pada peningkatan superoxide dismutase (SOD), merupakan salah satu anti oksidan dalam tubuh untuk pertahanan terhadap radikal bebas dan bertujuan mengatasi infeksi dengan meningkatkan kerja sel darah putih sebagai antibiotic pembunuh kuman.
Untuk biaya, cukup murah kok. Sekitar Rp 1.300.000,- untuk sepuluh kali sesi pertemuan. Mau coba?  Diposkan oleh dadunk

Data Pengunjung Februari 2010

Pelantikan Pinsakada Bahari Prop.DIY

Pelantikan Pinsakada Bahari Prop.DIY

Seragam Pramuka Saka Bahari

Seragam Pramuka Saka Bahari

Mendapat arahan dari Kakak-kakak

Mendapat arahan dari Kakak-kakak

Tongkat Pora

Tongkat Pora
Pernikahan Kak Fauzi & kak Wanti

Badgenya dipasang biar siap dilantik....

Badgenya dipasang biar siap dilantik....

Paling Populer

Menyediakan Berbagai Kebutuhan Atribut Pramuka :



Perlengkapan dan Peralatan Pramuka